Pertanian
Berbasis Kearifan Lokal
Menurut
Ardhana (2005), kearifan lokal dapat diartikan sebagai perilaku bijak yang
selalu menggunakan akal budi, pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki
masyarakat dalam suatu wilayah geografis tertentu. Dalam kearifan lokal ada
karya atau tindakan manusia yang sifatnya bersejarah, yang masih diwarisi
masyarakat setempat. Perilaku bijak ini biasanya adalah tindakan, kebiasaan
atau tradisi, dan cara-cara masyarakat setempat yang menuntun untuk hidup
tenteram, damai dan sejahtera.
Sunaryo dan
Laxman (2003), menjelaskan kearifan lokal merupakan pengetahuan lokal yang
sudah demikian menyatu dengan sistem kepercayaan, norma dan budaya dan
diekspresikan di dalam tradisi dan mitos yang dianut dalam waktu yang cukup
lama.
Menurut
Keraf (2002), kearifan lokal atau kearifan tradisional yaitu semua bentuk
keyakinan, pemahaman atau wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun
perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas ekologis.
2. Bentuk-bentuk Kearifan Lokal
Memahami kearifan lokal dapat dilakukan melalui
pendekatan struktural, kultural dan fungsional (Ardhana, 2005). Menurut
perspektif sturktural, kearifan lokal dapat dipahami dari keunikan struktur
sosial yang berkembang dimasyarakat, yang dapat menjelaskan tentang institusi
atau organisasi sosial serta kelompok sosial yang ada.
Ardhana (2005), menjelaskan bahwa menurut
perspektif kultural, kearifan lokal adalah berbagai nilai yang diciptakan,
dikembangkan dan dipertahankan masyarakat yang menjadi pedoman hidup mereka,
termasuk mekanisme dan cara untuk bersikap, bertingkah laku dan bertindak yang
dituangkan dalam suatu tatanan sosial.
Menurut perspektif fungsional, kearifan lokal
dapat dipahami bagaimana masyarakat menjalankan fungsi-fungsinya, yaitu fungsi
adaptasi, integrasi, pencapaian tujuan dan pemeliharaan pola. Contohnya dalam
hal beradaptasi menghadapi era globalisasi (televisi, akulturasi dan
lain-lain).
Tinjauan tentang Global Warming
Pemanasan global atau Global Warming adalah suatu proses
meningkatnya suhu
rata-rata atmosfer,
laut, dan daratan Bumi.Suhu rata-rata global
pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C
(1.33 ± .32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate
Change(IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan
suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan
oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah
kaca akibat aktivitas manusia" melalui efek rumah
kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30
badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari
negara-negara G8.
Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan
yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.
Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu
permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga
11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100. Perbedaan angka perkiraan itu
disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas
rumah kaca di masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang
berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100,
pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama
lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil
mencerminkan besarnya kapasitas kalor lautan.
Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan
yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena
cuaca yang ekstrem,[2]
serta perubahan jumlah dan pola presipitasi.
Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian,
hilangnya gletser,
dan punahnya berbagai jenis hewan.
Beberapa hal-hal yang masih diragukan para ilmuwan adalah mengenai jumlah
pemanasan yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, dan bagaimana pemanasan
serta perubahan-perubahan yang terjadi tersebut akan bervariasi dari satu
daerah ke daerah yang lain. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik
dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk
mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi
terhadap konsekuensi-konsekuensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan
negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol
Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.
(Wikipedia 2011)
Bentuk pertanian
kearifan lokal daerah Klaten
Semua, yang bersifat kuno bukan berarti itu buruk atau tak layak pakai tapi
mari kita belajar dari sejarah. Jika sejarah itu baik mari kita gunakan lagi
sebaik-baiknya dengan kombinasi modernitas yang sesuai dengan kearifan alam.
Salah satunya, di daerah saya yaitu didaerah Klaten. Dahulu, di daerah saya
sistem pertaniannya seperti berikut :
1.
Pemupukan dilakukan dengan pupuk organik dari
alam seperti dengan cara pembusukkan dedaunan lalu di
benamkan ke area sawah, atau dengan pemupukan dengan pupuk kandang.
2.
Adanya jeda tiap periode tanam, yaitu dengan
cara seperti pola tanam padi--padi-- palawija---jeda(diisi dengan menanam
koro, untuk pemupukan alami).
3.
Pupuk kimia tidak diberikan secara gila-gilaan
bahkan tidak ada.
4.
Pemberantasan hama secara alami dengan predator
alami hama,dan lain sebagainya.
Jika sistem kearifan lokal itu dapat berjalan
dengan penyesuaian zaman sekarang pertanian pasti akan maju.
Sumber :
http://johnnduka.blogspot.com/2012/03/pengembangan-kearifan-lokal-di-sektor.html
oke pertanian berbasis kearifan lokak,artikelnya cukup baik dan menarik untuk dibaca
BalasHapusgood job.
BalasHapuscek juga di: http://loispangesrtu.blogspot.com
good job too
Hapussip lahhh
BalasHapussiip,.
Hapusterimaksih. data statistiknya lengkap.
BalasHapusya, trim
Hapusbagus blognya (y)
BalasHapusyo
Hapus